Cerita Cinta Membina SMP (edisi2)
Cerita ini adalah hasil diskusi (via email) dengan pembina (yang merupakan alumni) salah satu SMP favorit di Bandung. kenapa Bandung? tahun 2005, di Jogja ada tamu pelajar SMA Bandung yang udah “berani” jadi mentor anak SMP. wuih, anak SMA jadi mentor SMP… (TOP bgt). Ini semacam tips bagaimana agar pelajar SMA bisa menjadi pembina bagi adik-adiknya di SMP. semoga tulisan ini bisa menginspirasi khususnya bagi mereka yang ingin sukses membina di SMP. (jika belum sukses, evaluasi sendiri ya)
- JGJ: Anda Pake pendekatan apa untuk mendidik mereka (pelajar SMP)? Kayaknya pake model kenceng ya? Kok berani? Padahal kan mereka masih anak-anak, tapi pelajarannya ketoke gak mempermasalahkan mereka masih anak-anak? Kenapa?
- BDG: Unsur-Unsur metodenya
- Kasih sayang dan disiplin
- Kebersamaan sampai akhir dalam amal
- Membangun “pertemanan”, pendampingan dalam belajar, bersama dalam“permainan”[metode ini butuh mengalokasikan waktu yang banyak bersama mereka, 3-6 hari seminggu, 2-3 jam sehari]
- Kesetiaan dan perhatian [ini lahir dari komitmen bersama dan pembiasaan]
- Kesibukan amanah dan “rekreasi” bersama. [minimalisir yang “nganggur gak ada amanah”]
- Kreatif dalam bentuk amal dan pendidikan
- ..yang lain kayaknya unsur-unsur cabangnya seeh, punten belum pernah didokumentasikan sih.
- BDG: Berani?? Yah, insyaAllah, karena kami yakin bentuk pembelajaran ini diusahakan tawadzun (seimbang) [tidak disiplin tapi tanpa kasih sayang, tidak hanya beramal tanpa rekreasi].
- Selalu ada unsur penyeimbang yang diusahakan. Tidak hanya kenceng ajah dan tidak hanya “tidak kenceng ajah”
- Di kami emang belum ada yang nguasain psikologi anak SMP, tapi kayaknya nggak ada teori bahwa anak-anak harus dididik dengan cara “nggak kenceng”. Asalkan unsur-unsur pendukungnya tepat, seorang anak bisa dididik “lebih kenceng” lagi. Bukankan ustadz-ustadz terdahulu kita ada yang sempet dididik dengan “lidi” agar hafal Al-Qur’an?? Dan sekarang mereka menemukan manfaatnya.[ beda ama kita kali, kalo dididik sama “lidi” kayaknya langsung gak datang lagi]
- BDG: Dalam masalah PRINSIP [tidak boleh pacaran, tata krama ibadah], khusus mereka yang sudah butuh belajar maka mulai pada masalah pelengkap-pelengkap amal [tepat waktu, disiplin tugas, loyalitas, dll] yang terpenting yaitu untuk membentuk lingkungan yang unggul. Kalo kita ada di lingkungan yang tepat waktu, apakah kita akan tetap terbiasa nggak tepat waktu?? Dan keberadaan kita di lingkungan unggul tersebut sebenarnya berarti kita sedang “terdoktrin” juga dengan semangat lingkungan tsb.
- Tidak menutup kemungkinan untuk memberikan penjelasan terhadap “doktrin” tersebut. Sebagian besar anak-anak memiliki semangat ikut-ikutan. Daripada ikut-ikutan yang nggak bener mendingan ikutan yang bener.
- Yah, asalkan unsur penunjangnya tepat, insyaAllah metode “doktrinasi” bisa mendatangkan maslahat [suatu amal tanpa ilmu kan bisa mendatangkan lebih banyak mudharat daripada manfaat]
- JGJ: Anda pake riset dulu gak untuk nemuin formula itu? Gimana caraya?
- BDG: Trial and error…[ngga bertanggung jawab yah…: ) ] kami mengandalkan syuro saja dan mengevaluasi dari kegagalan2 kami. (NB: kegagalan kami buanyak)
- JGJ: Hasil Trial Error?
- BDG:
- Harus membangun ketsiqohan (kepercayaan) antara yang dibina dan yang membina sebelum proses belajar [baca: menggunakan metode “kenceng” dan “dokrinasi” ]
- Pembina harus bisa mendampingi dan bersamasama binaan.3-6 hari seminggu, 2-3 jam sehari. Masalahnya lebih banyak pendidikan yang mengena saat dikehidupan sehari-hari daripada saat mentoring. Biasakan binaan untuk beraktivitas bersama-sama kita
- Bangun lingkungan yang unggul. Nanti binaan berikutnya akan terbiasa dengan ekosistem unggul tsb
- Harga binaan itu “mahal”…karena itu siap-siap jihad maal (harta)
- Pendidikan dan amal harus tetap jalan meskipun binaan yang datang cuma satu orang
- Sibukkan binaan dalam amal, jika tidak, mereka akan sibuk dengan hal-hal lain. Saat mereka sibuk, ini pun akan membangun loyalitas mereka
- Perkenalkan binaan dengan lingkungan yang lebih luas agar pendangan mereka tidak “picik” dan berakhir saat selesainya akademik
- Beri keteladanan, mereka sangat mudah mengikuti “teladan” mereka
- Beri pujian untuk mengompori amal-amal mereka. Jika perlu berulang dalam berbagai kesempatan.
- Perkenalkan dengan sumber-sumber pembelajaran Islam yg lain. [mereka ada yg begitu semangat untuk minjem buku2 ke mentornya, yg tebal sekalipun]
- Padukan dengan teori-teori motivasi dan manajemen
- Buat “arogansi” pada organisasi secukupnya [cukup efektif di awal]. Sahabat ada yang masuk Islam karena harta, kalah bergulat dengan Rosulullah karena ingin selamat, dll. Tapi asal setelah itu dididik maka kecintaan mereka pada iman akan melebihi kecintaan mereka pada yg lain.
- Asah da’i-da’i dakwah SMP. Ngga cukup hanya menggergaji kayu saja.[kalo kata seven habits] harus jadi gergaji leser..artinya cari cara untuk terus melejitkan potensi dan keilmuan da’i-da’I kita)
- Beri nasihat, beri nasihat, beri nasihat. Jangan cape beri nasihat. Karena agama itu nasihat. Bagaikan kapal, akan selalu ada lobang bocor, jika bocor itu tdk ditambal maka akan karamlah kapal itu dan bisa jadi setelah satu lobang ditambal, lobang yang bocor muncul di tempat lain, karena itu, bersabarlah dalam menasihati dalam kebenaran.
- Perlu ada punishment dan reward dikeseharian..tidak hanya saat acara belajar saja.
- Beri hal-hal baru dalam nuansa belajar, usia mereka sangat butuh hal-hal baru.
- Selalu kreatif dalam amal. Jangan mengulangi amal yang sama dua kali karena hal itu butuh kreatifitas kita.
- Konsolidasi rutin tiap minggu dari mentor-mentor adalah WAJIB..[ ini harga mati..kalo kata TNI] 18 dulu aja yah..
- JGJ: Trus content pendidikannya ditentuin darimana? Kenapa materinya gitu? Apa target dan tujuan dengan model dan content seperti itu?
- BDG: Content ditentuin dari rapat mentor-mentor [ingat keilmuan dan potensi mentor harus terus di up grade dari sumber yang “lebih jernih”] tujuan dan tahapan yg sekarang:
- Membangun ketsiqohan (kepercayaan) mentor dan binaan, membimbing binaan untuk mencapai karekteristik kepribadian muslim.
- Membangun ukhuwah [kebersamaan hidup] diantara binaan, membangun kesungguhan dalam amal, membiasakan latihan ruhani (baca said hawa), membangun arogansi organisasi, membangun kemampuan dasar organisasi, membimbing penguasaan tahsin.
- Membangun kepemimpinan, memperkenalkan ilmu-ilmu syar’i (ulumul hadis, ulumul Qur’an, riyadhus shalihin, tazkiyatun nafs, fiqud dakwah, sirah nabawiyah) minimal hafidz 1 juz, mampu membangun tim baru.
- Membangun effective organization & leadership, spesialisasi ilmu2 syar’i, meneruskan tanfidzul qur’an, mampu membangun tim baru lagi.
- JGJ: Apa kendala yang dihadapi?
- BDG: Kendala ekstern:Sahabat-sahabat yang “pergi” dan Sahabat-sahabat yang “non aktif”. Kendala intern (tahu sendiri lah) Yang dilakukan: yang “non aktif” emang karena keputusan rapat kami, tapi yang pergi, kami usahakan untuk merangkulnya kembali.
- JGJ: Rekomendasi yang di ajuin gimana? Untuk peserta didik kalian selektif gak? Model pendidikan Mentoring di Bandung adaptif gak untuk semua profil pelajar SMP? Ada kriteria tertentu?
- BDG: Istilah kami ada mentoring, ada pembinaan. Kalo mentoring bagi mereka yang mau belajar Islam “saja”. Ngga mau dapat materi lebih atau masih banyak pingin maen atau masih ngga mau dapat tambahan beban-beban amanat. Kalo untuk mentoring siapa saja silahkan bergabung. Kalo pembinaan yaitu teman-teman yang siap ditempa lebih.
- Apakah adaptif untuk pelajar SMP? Itu sangat tergantung dari kesiapan mentornya.
- Siap ga 3-6 hari seminggu bersama pelajar SMP??
- Siap ga konsolidasi tiap minggu??
- Siap ga menjadikan pelajar SMP sebagai teman kita??
- Siap ga mempelajari metode ini lebih lengkap lagi??
(jangan kayak kisah 6 GAJAH buta dengan seorang MANUSIA) bosen kalo 6 orang buta dengan seekor gajah trus..) tapi bukankan kita di dunia ini memang untuk berkorban dan menunjukkan amal terbaik kita pada Allah?? Surga Allah masih tak sebanding dg pengorbanan kita. Wallahu’alam
**semangat buat pegiat dakwah SMP! anak SMA bisa banget membina SMP,


Wah terima kasih sudah berbagi. Mudah2an bermanfaat utk di amalkan.
Saya jg baru2 ini dpt amanah baru utk ‘mbina’ adek2 yg dari SMP.
memang benar atmosfirnya sangat berbeda dgn d SMA, bgtupun watak dan keseharian anak2 SMP.